Meriah dan Khidmat, 3.160 Peserta Ikuti Tradisi Baayun Maulid di Tapin

RANTAU, lintasbanua.com – Masjid Al Mukarramah, Desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, kembali menjadi pusat perhatian ribuan jemaah dari berbagai daerah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan tradisi Baayun Maulid, Sabtu (6/9/2025).

Tradisi turun-temurun yang terus dilestarikan masyarakat Tapin ini kian dikenal luas, bahkan menarik minat peserta dari luar daerah. Tahun ini, peringatan Maulid mengusung tema “Dengan Sholawat, Bersatu Ummat. Mendapat Syafa’at, Dunia dan Akhirat.”

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, mewakili Gubernur Kalsel, menegaskan bahwa Baayun Maulid bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan wujud perpaduan nilai spiritual dan budaya lokal.

“Tradisi ini mencerminkan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus doa agar anak-anak yang diayun tumbuh sehat, berakhlak mulia, dan selalu dalam lindungan Allah,” ujarnya.

Menurutnya, kekayaan budaya semacam ini memperlihatkan nilai kebersamaan sekaligus memperkuat identitas masyarakat Banua.

“Kecintaan terhadap Rasulullah semakin hidup dan penuh makna. Prosesi Baayun mampu menyatukan semua kalangan, dari bayi hingga orang tua,” tambahnya.

Bupati Tapin, H. Yamani, menyebut Baayun Maulid kini telah menjadi ikon daerah yang mulai mendunia.

“Alhamdulillah, banyak masyarakat dari luar Tapin ikut berpartisipasi. Ini kebanggaan sekaligus peluang untuk memperkenalkan Tapin sebagai daerah yang kaya budaya. Insya Allah, tahun depan jumlah jemaah akan terus bertambah,” ucapnya.

Ketua panitia, Ahmad Suriansyah, melaporkan sebanyak 3.160 orang resmi terdaftar mengikuti prosesi tahun ini. Peserta tidak hanya dari Kalimantan Selatan, tetapi juga dari luar pulau, termasuk Tangerang, Banten.

Peserta tertua adalah Arfah (96), warga Desa Banua Halat, sementara peserta termuda adalah bayi berusia 21 hari bernama Siti Aisah dari Desa Banua Hanyar Hulu.

“Dari balita, remaja, dewasa hingga lansia, bahkan masyarakat dari luar daerah, semuanya larut dalam suasana penuh khidmat di Halaman Masjid Al Mukarramah,” kata Suriansyah.

Ia menambahkan, antusiasme masyarakat meningkat setiap tahun. Panitia berharap ke depan kegiatan ini dapat menjadi warisan budaya yang bukan hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga diakui dunia.

“Dengan dukungan semua pihak, kami yakin tradisi ini akan terus berkembang dan mendunia,” ujarnya optimis.

Penceramah Tuan Guru H. Muhammad Rasyid Ridho turut hadir dan mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak boleh dimaknai hanya sebatas seremonial.

“Momentum ini hendaknya menjadi ajang memperdalam kecintaan kepada Rasulullah, meneladani akhlaknya, serta menguatkan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Tradisi Baayun Maulid sendiri memiliki daya tarik unik. Para peserta duduk dalam ayunan berhiaskan kain warna-warni, diiringi lantunan syair maulid dan doa. Simbolisasi ini diyakini masyarakat sebagai ungkapan cinta sekaligus doa agar hajat dikabulkan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *